Jumat, 18 Mei 2012

Potensi Gunungapi di Kabupaten Lembata

GAMBARAN UMUM

      Lembata adalah sebuah pulau gugusan Kepulauan Solor yang terletak antara Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Alor.
Secara geografis Pulau Lembata terletak di sebelah timur pulau Flores dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :
Sebelah utara        : Laut Flores
Sebelah selatan     : Laut Sawu
Sebelah timur        : Selat Alor
Sebelah barat        : Selat Boleng dan Lamakera
Secara astronomis Lembata terletak pada posisi : 8°10' - 8°11' LS dan 123°12' - 123°57' BT.
Secara administratif, sejak tahun 1958 Lembata merupakan bagian dari Kabupaten Flores Timur dengan Ibukota Larantuka, namun berdasarkan Undang-Undang Nomor 52 Tahun 1999 sejak 12 Oktober 1999, Pulau Lembata resmi berdiri sendiri menjadi Kabupaten Lembata dengan Ibukota Lewoleba yang memiliki luas wilayah 1266,48 km² atau 126.648 Ha.
      Pulau Lembata dan pulau-pulau kecil lain di sekitarnya merupakan gugusan kepulauan Solor yang membentang dari Pulau Solor dan Pulau Adonara (Kabupaten Flores Timur) di bagian barat,dan Pulau Pantar dan Pulau Alor serta pulau-pulau kecil lainnya di sebelah timur(Kabupaten Alor). Gugusan kepulauan Solor ini masuk dalam zona” ring of fire” atau lingkaran api dunia di mana pada masing-masing pulau terdapat gunungapi aktif.
      Pulau Lembata terletak pada pusat kegiatan tektonik dari busur magmatik Sunda-Banda berarah Barat-Timur yang menunjukkan tempat bertemunya tiga lempeng tetonik besar (Hamilton,1979). Pulau Lembata merupakan bagian dari sistem Busur Banda bagian dalam dan terbentuk dalam rangkaian kepulauan bergunungapi aktif.Seperti halnya bagian barat, bagian timur wilayah busur ini dikenal mempunyai potensi bahan galian logam yang cukup berarti terutama emas dan tembaga. Beberapa temuan mineralisasi di wilayah busur kepulauan tersebut terdapat di Sumbawa (PT. Newmont Nusa Tenggara Timur) dan di Wetar  (PT. Prima Lirang). Bahkan di antaranya ada yang sudah berproduksi seperti tambang tembaga tipe porfiri di daerah Batu Hijau, Nusa Tenggara Barat. 
     Di kabupaten Lembata memiliki tiga gunungapi aktif. Gunungapi-gunungapi itu antara lain, Gunungapi Ile Lewotolo, Gunungapi Ile Batutara, dan Gunungapi Ile Werung. Gunungapi-gunungapi ini berpotensi menghasilkan bahan galian tipe A,tipe B, dan tipe C (bahan galian industri).Ambil contoh dari masing-masing bahan galian tersebut antara lain yaitu panas bumi (geothermal) di Kecamatan Atadei, emas di Kecamatan Lebatukan, Buyasuri,Omesuri dan Atadei, dan belerang dan sirtu di kecamatan Ile Ape. Semua bahan galian ini sangat potensial namun belum dikelolah dan dimanfaatkan karena faktor lemahnya sumber daya manusia (SDM) ,masih kentalnya budaya dan adat istiadat serta kondisi geologi setempat yang tidak memungkinkan dilakukan eksploitasi sumber daya alam dalam skala besar. Selain menghasilkan bahan galian, gunungapi-gunungapi di Kabupaten Lembata juga berpotensi sebagai obyek wisata kebumian dan rekreasi  yang apabila dikelolah dengan baik dapat meningkatkan pendapatan daerah.

GUNUNG API DI KABUPATEN LEMBATA

      Menurut Macdonald (1972,vite Bronto,2001) volcano is the place or opening from which molten rock or gas,and generally both issues from the earth’s interior onto the surface,and the hillor mountain builtup around the opening by accumulation of the rock material.Definisi di dalam Bahasa Inggris itu jika diterjemahkan secara bebas ke dalam Bahasa Indonesia menjadi gunungapi adalah tempat atau bukaan darimana batuan kental pijar atau gas , dan umumnya kedua-duanya, keluar dari dalam bumi ke permukaan,dan bahan batuan yang mengumpul di sekeliling bukaan itu membentuk bukit atau gunung.
Dari definisi gunungapi di atas maka dapat disimpulkan bahwa di Kabupaten Lembata berpotensi memiliki gunungapi. Hal ini juga diperkuat dengan data dasar gunungapi di Indonesia dari Direktorat Volkanologi, Direktorat Jenderal Pertambangan Umum, Departemen Pertambangan dan Energi, Republik Indonesia 1979.
      Menurut Hartmann (1935,p.880) tumbuhnya gunungapi di Lomblen (sekarang biasa disebut Lembata) umumnya adalah akibat gaya tektonik,sehingga besar kemungkinan dapat mempengaruhi kegiatan gunungapi tersebut.Di wilayah kabupaten ini,terdapat tiga gunungapi aktif atau gunungapi tipe A. Gunungapi-gunungapi itu antara lain, Gunungapi Ile Batutara, Gunungapi Ile Lewotolok dan Gunungapi Ile Werung. Satu hal yang menarik di kabupaten ini adalah panas bumi di kecamatan atadei apakah termasuk dalam klasifikasi gunungapi atau tidak. Penulis berhipotesa bahwa panas bumi ini termasuk dalam gunungapi tipe C dengan mengacu pada definisi gunungapi tipe C menurut (Bronto, 2001) yang menyatakan bahwa gunungapi tipe C adalah gunungapi yang merupakan lapangan panas bumi yaitu munculnya gas-gas gunungapi,mata air panas,bualan lumpur panas, lapangan alterasi hidrothermal,dan lain-lain. Tubuhnya berupa komposit sudah tidak nampak lagi.

      Berikut di bawah ini adalah data gunung api di kabupaten lembata:
1. Gunungapi Ile Batutara (K.Kusumadinata)
Nama lain            : Pulau Komba, P. Kambing II, Pulu Beta
Tipe                    : Strato
Letak                  : P.Komba Kepulauan Nusa Tenggara, 48 km utara P.Lomblen
Posisi                  : 7047’30”LS 123034’45”BT (Van Bemelen 1949, p.492)
Tinggi                  : 740 M dml (atlas trop Nederland), 3750 ddl
Sifat letusan         : tipe Stromboli dengan sekali- kali limpahan lava

2. Gunungapi Ile Lewotolok (L.D Reksowirogo)
Nama lain         : Ile Ape,Ile Werirang
Nama kawah    : K1 dan K2
Tipe                 : Strato
Letak               : Bagian Utara P.Lomblen
Posisi               :8016’18”LS ,123030’18”BT (Hartmann1935,p.818)
Tinggi               :1319 M dml
Jalur gunungapi ini berarah tenggara-baratdaya.
  Lereng yang menyelimutinya gunungapi ini hingga ketinggian 1000 m dml , terdiridari abu gunungapi,breksi,pasir gunungapi,bom gunungapi,aliran lava kecuali di lereng barat relatif kurang (Hartmann,1935 p.820-821)

  3. Gunungapi Ile Werung (L.D Reksowirogo)
Nama lain            : Hiro , Lama Heru, Ili Paoegora, Punoetoen Ata Lama Heru
Tipe                    : Strato
Letak                  : di tepi selatan pulau Lomblen NTT
Posisi                  : 8032’24”LS ,123035’248”BT (Hartmann’1935)
Tinggi                  : 1018 M dml
      Kawah Dan Dome Lava : Ili Monyet(D),Ado Wajung(K), Ili Werung (D),Lositobe Utara Dan Lositobe Selatan (K),Ili Gripe(K,D),Ili Penutun(D)

      Untuk mencapai G. Ili Werung dapat dilakukan dari Bandung ke Surabaya, Surabaya - Kupang - Maumere dengan pesawat. Dari Maumere ke Larantuka dengan menggunakan kendaraan beroda empat, dari Larantuka ke Lembata (Lewoleba) dengan menggunakan kapal laut, terus dilanjutkan dengan kendaraan beroda empat dari Lembata menuju ke Kec. Atadei di mana G. Ili Werung terletak. (sumber:Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi , Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral , http://www.esdm.go.id )

Manfaat Gunungapi

      Secara umum keberadaan gunungapi mempunyai dua manfaat utama yaitu manfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan manfaat praktis atau terapan untuk meningkatkan pendapatan dan taraf hidup manusia.
Gunungapi dipandang sebagai laboratorium alam yang oleh para ahli gunungapi dijadikan obyek penelitian secara terus-menerus untuk pengembangan ilmu pengetahuan kegunungapian. Hasil pengembangan volkanologi ini juga nantinya juga akan memberikan manfaat praktis untuk kepentingan umum. Bahan atau keadaan di kawasan gunungapi yang merupakan hasil kegiatan gunungapi baik langsung maupun tidak langsung yang dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia disebut sumberdaya gunungapi (Bronto,2001 hal.11-1).

Sumberdaya Energi Gunungapi

      Magma gunungapi adalah sumber panas yang memanasi air bawah permukaan sehingga menjadi uap panas bumi yang dapat dimanfaatkan untuk pembangkit tenaga listrik. Sebagai kawasan yang secara tektonik dan volkanisme sangat aktif maka batuan gunungapi juga mempunyai potensi yang berhubungan dengan keterdapatan cebakan hidrokarbon, baik berupa batubara, minyak bumi maupun gas alam. Pengaruh volkanisme antara lain mampu mempercepat pematangan atapun sebagai batuan reservoir.
      Adapun potensi sumberdaya gunungapi di Kabupaten Lembata yaitu panas bumi Atadei yang belum dimanfaatkan oleh pemerintah dan masyrakat Lembata sebagai kebutuhan energi daerah. Panas bumi ini hanya baru dapat dimanfaatkan sebagai tempat wisata. Berikut di bawah ini keterangan tentang panas bumi Atadei.
Geotermal Sumur Eksplorasi At-1 Lapangan Panas Bumi Atadei Kabupaten Lembata – NTT: 
Lapangan panas bumi Atadei terletak ± 30 km di sebelah selatan Lewoleba, Ibukota kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Sumur AT-1 berada pada ketinggian 606.4m dpl.Karakteristik Geotermal Sumur Eksplorasi At-1, Lapangan Panas Bumi Atadei, Kabupaten Lembata -NTT. 
a. Litologi sumur eksplorasi AT-1 disusun oleh breksi tufa terubah (0 – 18 m), g p, andesit terubah (18 – 56 m) dan tufa terubah (56 – 62 m) dan andesit terubah (62 – 830.50 m). 
b. Seluruh batuan mengalami ubahan hidrotermal sedang sampai sangat kuat (SM/TM = 35 – 85%), terdiri dari lapisan over burden (0 – 6 m), tipe ubahan argilik (clay cap) dari 6 - 416 m, transisi argilik sampai  propilitik (416 - 590 m), dan batuan reservoir (tipe propilitik dan advanced argillc type) di antara 590 – 830.50 m. 3. Temperatur terukur maksimum adalah 145.5 oC (suhu ekstrapolasi 180 oC) di kedalaman 450 m. Temperatur reservoir sumur AT-1 berkisar antara 1800 – 240 oC (korelasi terhadap mineral ubahan). (k l i t h d i l bh ) 4. Batuan terubah di sumur AT-1 dicirikan oleh permeabilitas yang sangat kecil, dipengaruhi oleh 2 jenis fluida hidrotermal, yakni fluida sulfat-asam dan fluida klorida-netral. klorida netral 5. Untuk menyemburkan sumur AT-1 diperlukan prosedur yang tepat, mengacu pada data sumur (informasi) seperti posisi puncak cairan, kolom gas/uap, feed zone titik didih dan tekanan zone,
Pengeboran 2 (dua) sumur eksplorasi (AT-1 dan AT-2) di lapangan panas bumi Atadei, Kabupaten Lembata, Propinsi (NTT) dilakukan Subdit Panas Bumi - Direktorat Inventarisasi Sumber Daya Mineral ( (DJGSM) . ) Sumur eksplorasi AT-1 ditajak pada 3 Agustus 2004 dan diselesaikan dalam 67 hari setelah pemboran trayek liner 6 5/8” menembus 5/8 kedalaman 830.50 m. Pada pemanasan selama 24 jam di kedalaman 450 m dengan temperatur terukur di bawah permukaan adalah maksimum 145.50 oC (suhu ekstrapolasi 185 oC). Semburan umur AT-1 hanya mampu bertahan selama 2 (dua) menit ketika sumur dibuka pada TKS 8 0 8.0 kscg.
Sumberdaya Lingkungan Gunungapi

Sumberdaya lingkungan gunungapi antara lain untuk pariwisata gunungapi, olahraga, pemukiman, pertanian, perkebunan dan kehutanan, pengobatan dan pemanfaatan air bersih baik untuk keperluan rumah tangga, industri maupun pertanian.
Gunungapi Ile Batu Tara dapat dicapai dari daerah Lomblen  menggunakan kapal charter atau perahu layar  menuju lokasi ini atau dari salah satu di daerah Flores  Timur, karena memang tidak ada transportasi yang secara  rutin dan tersedia untuk singgah ke pulau ini serta tidak ada  penduduk yang bermukim di pulau ini. Pelayaran mencapai lokasi gunungapi ini dari daerah Pantar diperkirakan sekitar lebih kurang satu hari, cuaca dan musim disarankan perlu diperhitungkan. 
Potensi wisata maritim di sekitar wilayah gunungapi ini sangat menarik, terutama untuk penyelam. Dasar laut tampak jelas di sekitar dekat pantai di pulau ini, terlihat pemandangan dasar laut yang sangat indah dan belum  terjamah oleh  kegiatan manusia, dan masih tampak sangat alamiah (natural). 

(Sumber: Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi 
Departemen Energi dan sumber Daya Mineral http://www.esdm.go.id)
Selain Ile Batutata, Ile Lewotolok juga memiliki potensi wisata yang tak kalah menariknya yaitu rumah adat dan ritus pesta kacang Jontona .Jontona terletak di Kecamatan Ile Ape. Dari Jontana tepatnya di Dusun Lewohala yang terletak di ketinggian Gunung Ile Ape (Ile Lewotolo) terdapat kampung tua dengan kompleks rumah adat dimana masing-masing mempunyai kelengkapan untuk upacara adat seperti keramik, gading, dan lain-lain. Disini setiap tahunnya pada bulan September selalu diadakan upacara adat Sora Utan dan Pesta Makan Kacang yang unik yang terpusat pada rumah-rumah adat. Selama upacara pesta kacang, pengunjung dapat menikmati atraksi-atraksi budaya serta dapat menikmati tarian-tarian tradisional beserta perlengkapan-perlengkapan yang digunakan dalam tarian-tarian tersebut. Disamping itu pengunjung juga dapat menyaksikan hasil tenun ikat tradisional Ile Ape serta melakukan hiking dari Desa Jontana menuju Kampung Lewolaha untuk menikmati panorama laut dari Gunung Vulkanis Ile Ape (Ile Lewotolo). Dari Lewoleba pengunjung dapat mencapainya dengan kendaraan roda dua maupun roda empat kurang lebih dua jam dengan menempuh jarak 16 km. Pengunjung dapat menyewa rumah penduduk sebagai home stay.
Paling menarik dari potensi wisata gunungapi ini adalah sumber gas alam karun Watuwawer .Terletak di Desa Atakore Kecamatan Atadei. Mayoritas tanah disekitarnya vulkanis sehingga muncul adanya gas bumi berupa uap-uap panas yang berkekuatan cukup besar. Keunikan dari sumber gas ini adalah digunakan oleh masyarakat lokal sebagai dapur alam. Mereka membuat lubang-lubang kecil kemudian memasukkan berbagai jenis makanan seperti ubi-ubian, kacang-kacangan, jagung muda, sukun dan lain-lain kemudian setelah matang makanan tersebut dapat langsung dikonsumsi dengan aroma yang khas dan mengundang selera. Sambil menunggu matang, pengunjung dapat melakukan aktifitas wisata seperti hiking, bernyanyi dan bergembira ria dengan menikmati tarian-tarian daerah. 
Disamping itu juga dapat mengunjungi rumah adat dan proses pembuatan tenun ikat Atadei. Dari Lewoleba dapat dijangkau dengan kendaraan roda dua dan roda empat dengan jarak kurang lebih 35 km. Pengunjung dapat menyewa rumah-rumah penduduk sebagai home stay.

Sumberdaya Mineral Gunungapi

Terdapat di fosil gunungapi. Gunungapi dengan tingkat kegiatan hirothermal dan gunungapi aktif masa kini serta mencakup mineral logam dan non logam atau bahan galian industri.

 a. Bahan Galian Logam

Brouwer, 1940, Ehrat, 1925, Koesoemadinata, S. dan Noya, Y., 1983, Van Bemmelen, 1949, Hanafi S., 1993 dan Noya Y. dkk, 1990 telah membuat peta keterdapatan mineralisasi logam di Pulau Lomblen. Secara umum di wilayah ini terdapat beberapa bahan galian mineral logam berupa emas, tembaga, perak dan timbal. 
Penyelidik terdahulu telah menemukan adanya endapan tembaga-timbal-perak tipe stratabound di dalam batuan vulkanik dan sedimen berumur Tersier di bagian timur laut Pulau Lomblen. Kemudian ditemukan juga adanya logam mulia berupa emas dan perak yang berhubungan erat dengan logam dasar, dengan dicirikan adanya urat-urat barit dibagian timur laut dan urat barit di dalam andesit dan diorit di bagian barat daya. 
Urat-urat dan zona lemah yang mengandung tembaga-timbal-seng, terdapat di dalam diorit dan beberapa andesit berumur Tersier Akhir. Selain itu ditemukan juga emas yang berhubungan erat dengan logam dasar di dalam batuan breksi dasitik, tufa atau lava dengan zonasi ubahan silika dan lempung di daerah Balauring. Di Wae Puhe dan Buyasuri ditemukan adanya mineralisasi emas didalam urat-urat kuarsa dan barit atau di dalam breksi terkersikkan dengan sedikit logam dasar berupa tembaga, timbal, seng dan diselimuti oleh silika secara luas serta ubahan lempung.
Hasil penyelidikan geokimia di P. Lembata menunjukkan bahwa di beberapa daerah ditemukan anomali sebagai petunjuk adanya mineralisasi logam. Diantaranya di Wai Puen, Lewolein, Balauring hingga Atanila dan Labala-Balarebong. Hasil analisa kimia contoh batuan dari Lewolein memberikan indikasi adanya kandungan mineral logam Cu, Pb. Zn dan Mn yang signifikan, sedangkan untuk emas tidak dilakukan analisa kimia (Prapto, A dkk, 1998 dan Lahar dkk, 2001).
Adanya mineralisasi Au, Ag dan Pb pada batuan terobosan berumur Tersier (Miosen Tengah-Atas) dan berdekatan dengan zona patahan, menunjukkan  bahwa tipe mineralisasi di Lembata ini dapat dikategorikan sebagai endapan epitermal sulfida rendah. Mineralisasi emas tersebut terbentuk dalam urat-urat kuarsa, karbonat dan kuarsa-barit, umumnya berasosiasi dengan logam dasar seperti tembaga, timbal, seng, arsenik dan antimon (Lahar dkk, 2001).
b. Bahan Galian Barit

Keberadaaan bahan galian barit di daerah penyelidikan terekam sebanyak 4 jalur, berarah relatif utara-selatan (N5°E) dengan kemiringan relatif tegak, panjang masing-masing antara 50 -100 m, dengan ketebalan  20-50 cm. Beberapa waktu yang lalu pernah dilakukan penambangan barit oleh rakyat setempat bersamaan dengan eksploitasi  barit oleh PT. Baroid di daerah Buyasuri (Wai Puen dan Tanah Merah). Penggalian tersebut dihentikan karena pasar barit yang tidak jelas. Dari dimensi urat barit yang ada sumber daya dan cadangan barit di daerah ini relatif kecil dan cocok untuk dibuat pertambangan sekala kecil, mengingat proses penambangannya sangat sederhana hanya penggalian dan pengangkutan saja. Untuk pengembangan pertambangan barit di daerah ini perlu adanya evaluasi ekonomi dan evaluasi pasar barit untuk mengantisipasi pasar yang tidak jelas sebelum penambangan dimulai sehinggga hasil dari pertambangan barit yang ada bisa diserap pasar.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar